Tradisi Enjiak Sun Setung Awali Kegiatan Lom Plai

3

 

DISKOMINFO PERSTIK -SANGATTA. Tradisi turun  menurun (sakral) suku Dayak Wehea Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur pada Kamis (19/4) turut dihadiri Bupati Kutai Timur H Ir Ismunandar MT beserta perwakilan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Yang mana pesta adat suku Dayak Wehea sebagai wujud interaksi melalui sang pencipta, leluhur atas karunia rizki dan rasa syukur atas hasil bumi yang berlimpah seperti padi.
Acara sakral adat suku Dayak Wehea tersebut dikenal dengan pesta adat Lom Plai.
yang mana event  Lom Plai diawali dengan pertunjukan perang dari atas perahu.
Perang yang ditampilkan secara kolosal tersebut yang mana para suku adat Dayak Wehea saling melempar ranting tanaman.
Bahkan tak sedikit peserta perang perahu terjatuh ke dalam bantaran aliran sungai, ada juga perahunya yang terbalik sehingga mengundang keseruan dan “hiporia” para penonton yang menyaksikannya.
Acara adat yang digelar rutin dalam setiap tahunnya banyak mengundang ketertarikan turis mancanegara negara seperti asal Jerman, wisatawan lokal baik dari Bontang, Samarinda, Tenggarong, Balikpapan yang turut meramaikan dan menyaksikan hiburan adat tersebut.
Bahkan tampak media asing seperti National Geographic, nasional seperti Net TV, Trans -7, SCTV , MNC hingga media lokal seperti e-kspos Bontang melakukan peliputan siaran langsung (live).
Bupati Kutim Ismunandar saat menyaksikan tradisi perang perahu tampak terpukau dan terhibur. ” Budaya Lom Plai yang merupakan acara adat sakral Dayak Wehea dapat terus dilestarikan serta mengundang wisatawan asing maupun lokal dari luar Kutim,” tegas orang nomor satu di Pemkab Kutim ini.
Bupati Ismunandar berharap ke depan tradisi Lom Plai dapat turut menghidupkan sektor wisata.
Ketika awak media menanyakan kepada Bupati apakah Lom Plai dapat memberikan kontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah ? “Untuk saat ini belum, karena dasar aturan juga tidak ada tapi bisa saja nantinya diusulkan,” imbuh Ismunandar.
Hadirnya rombongan Bupati turut disambut penuh keakraban baik oleh Camat Muara Wahau Irang Ajang serta Anggota DPRD Kutim Siang Geah, unsur Forum Komunikasi Perangkat Daerah dalam hal ini TNI dari Koramil setempat juga Kapolsek Muara Wahau AKP Sukirno.
Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing Ledjie Taq mengatakan hiburan kolosal perang diatas pergaulan dirangkai dengan tarian khas suku Dayak Wehea oleh warga setempat di kenal dengan istilah Enjiak Sun Setung  artinya pertunjukan tarian dari atas rakit. Yang mana rakit para penari berukuran 2,5 x 8 meter. Dari sisi kiri dan kanan rakit tampak perahu ces turut mengawalnya.
Kepala adat Desa Nehas Liah penari dari atas rakit terdiri dari 4 penari wanita didampingi dua penari pria yang memperagakan mengangkat senjata khas suku Dayak Mandau.
“Sementara perang dari atas perahu dikenal dengan tradisi Seksiang artinya perang diatas sungai aliran sungai Wehea, semetara ranting tanaman sebenarnya merupakan bambu yang dilempar dari atas perahu sebagai pengganti tombak weheang. Dalam satu perahu teridiri dari 4 peserta yang merupakan suku dayak asli Wehea, sementara dalam berperang diatas aliran sungai diturunkan 14 perahu,” tegas Bing Ledjie Taq. (TIM KOMINFO/Aji)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *