SAMARINDA- Keikutsertaan Dekranasda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam Borneo International Fashion Festival (BIFF) menjadi salah satu momentum untuk mendorong karya lokal terutma wastra batik Wakaroros semakin dikenal sekaligus dikembangkan sebagai produk unggulan industri kreatif daerah.
Kepala Disperindag Kutim, Ade Ahmad Yulkafilah yang turut hadir dalam kegiatan yang berlangsung Odah etam Kantor Gubernr, Samarinda itu, mengatakan pihaknya sangat mendukung keikutsertaan Kutim dalam BIFF. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang peragaan busana, tetapi juga dapat membuka peluang lebih luas bagi produk kerajinan dan fesyen berbasis budaya lokal.
“Kami sangat mendukung acara Borneo International Fashion Festival ini sebagai platform pameran untuk mengenalkan kekayaan wastra dan identitas budaya Kalimantan kepada pasar yang lebih luas,” kata Ade.
Ia menjelaskan, ajang fesyen tersebut sebagai ruang strategis untuk memperluas promosi produk wastra daerah, sekaligus mendorong para perajin dan pelaku usaha agar mampu meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk lokal.
Berkaitan dengan pengembangan wastra lokal, dirinya menyebut, peran Disperindag tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga bagaimana produk industri lokal dapat berkembang dari sisi kualitas, kemasan, nilai tambah dan akses pasar.
Dalam konteks batik Wakaroros, pengembangan tersebut dinilai penting agar produk yang dihasilkan perajin tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan tren fesyen dan kebutuhan konsumen.
“Acara ini juga mendorong generasi muda dan pengrajin lokal untuk mengemas busana tradisional agar tetap adaptif dan memiliki daya saing di pasar internasional,” ujarnya.
Menurut Ade, kreativitas desainer menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan wastra daerah. Batik Wakaroros dapat terus dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen modern tanpa menghilangkan karakter dan identitas khas Kutai Timur.
Karena itu, Disperindag mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, Dekranasda, perajin, desainer dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut diperlukan agar proses pengembangan produk berjalan dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan kapasitas perajin, peningkatan kualitas produk, desain, hingga pemasaran.
BIFF juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan kekayaan budaya daerah dengan perkembangan industri fesyen. Kehadiran batik Wakaroros dalam ajang tersebut menunjukkan bahwa produk lokal memiliki ruang untuk tampil dan dikembangkan melalui pendekatan industri kreatif.
Bagi Disperindag Kutim, semakin luasnya pengenalan batik Wakaroros diharapkan dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan usaha para perajin sekaligus membuka peluang pasar baru.
“Harapannya, produk-produk khas Kutim semakin dikenal, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” kata Ade.
Keikutsertaan Kutim melalui Dekranasda dalam BIFF pun menjadi bagian dari upaya bersama membangun ekosistem industri kreatif daerah. Batik Wakaroros tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi yang dapat terus tumbuh, berinovasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat Kutim.(Daus)
Keterangan Sumber: Setiap pengutipan, penyaduran, atau penggunaan informasi dan materi publikasi dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur agar mencantumkan sumber resmi serta menyertakan tautan menuju halaman atau berita asli.
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.