Cari Berita

Ketik kata kunci untuk mencari berita di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur

Dari Kecamatan ke Masyarakat, 180 PAC PPTI Kutim Siap Eliminasi TBC

Dari Kecamatan ke Masyarakat, 180 PAC PPTI Kutim Siap Eliminasi TBC

Bupati Ardiansyah, Pelaporan Menjadi Kunci


SANGATTA - Sebanyak 180 Pengurus Anak Cabang (PAC) Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PAC PPTI) dari 18 kecamatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi dikukuhkan. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Pelangi Hotel Royal Victoria Sangatta, Senin (27/04/2026).

Pengukuhan dilakukan langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, yang ditandai dengan  penyematan  pin kepada perwakilan  ketua PAC PPTI Kecamatan sebagai tanda bahwa para pengurus ini memiliki tanggung jawab untuk membantu mengeliminasi TBC di Kabupaten Kutim..

Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa peran kader PPTI tidak hanya sebatas menemukan dan mencatat kasus tuberkulosis (TBC), tetapi juga memiliki tugas untuk  melaporkannya secara aktif. Menurutnya, pelaporan menjadi kunci utama dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

“Menemukan dan mencatat saja tidak cukup. Jika tidak dilaporkan, maka tidak akan ada tindak lanjut yang nyata. Pelaporan adalah dasar bagi pemerintah untuk mengambil tindakan dalam upaya eliminasi TBC,” tegasnya.

Selain itu, Bupati Ardiansyah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap penyebaran TBC, termasuk dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga lingkungan, serta menghindari faktor risiko seperti merokok.

“Kita harus yakin bahwa TBC bisa disembuhkan. Namun, itu hanya bisa tercapai jika ada kesadaran bersama untuk melaporkan, mengobati secara tuntas, dan menjaga lingkungan tetap sehat,” ujarnya.



Ketua PPTI Kutim, Ny. Siti Robiah Ardiansyah, menyampaikan bahwa pembentukan PAC di tingkat kecamatan merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan penanggulangan TBC hingga ke masyarakat.


“PPTI tidak akan berarti jika hanya berada di tingkat kabupaten. Dengan terbentuknya PAC di 18 kecamatan, kita berharap upaya pencegahan, penemuan kasus, hingga pendampingan pengobatan bisa lebih maksimal,” ujarnya.


Kemudian istri dari Bupati Kutim itu juga mengajak seluruh pengurus yang telah dikukuhkan untuk bekerja aktif dalam melakukan skrining, edukasi, serta pendampingan pasien hingga tuntas menjalani pengobatan.


“Ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat. Mari kita bersama-sama menurunkan angka TBC dan mewujudkan target eliminasi pada tahun 2030,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan serius, baik secara global maupun di tingkat daerah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), jumlah kasus TBC di Kutai Timur setiap tahun tercatat lebih dari seribu kasus. Hal ini menunjukkan masih tingginya tingkat penularan di masyarakat.

“Faktor risiko TBC cukup kompleks, mulai dari penyakit penyerta seperti diabetes, kebiasaan merokok, gizi buruk, hingga kondisi lingkungan yang tidak sehat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat seperti PPTI, sangat penting dalam mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.


Diketahui, usai pengukuhan, para pengurus PAC PPTI Kutim juga mengikuti sesi pembekalan dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya akademisi di bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Mulawarman, Nur Rohmah, 

Kegiatan pengukuhan dan pembekalan ini sekaligus menjadi langkah awal dalam memperkuat komitmen bersama untuk menjadikan Kutai Timur sebagai daerah yang lebih sehat, bebas dari TBC, serta memiliki sistem penanganan kesehatan yang responsif dan berkelanjutan.


Penulis : Maulana

#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, di Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km²  atau 17 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur.  Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 425.613 jiwa (semester 1 tahun 2022), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.