Cari Berita

Ketik kata kunci untuk mencari berita di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur

Dari NTT ke Kutai Timur, Bergitta Temukan Harapan Baru Lewat Pelatihan Tenun ATBM

Bergitta penenun asal Desa Makmur Jaya Kecamatan Kaubun
Bergitta penenun asal Desa Makmur Jaya Kecamatan Kaubun


SANGATTA – Pelatihan Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang digagas Dekranasda Kabupaten Kutai Timur memberikan pengalaman baru bagi para pengrajin. Salah satunya dirasakan oleh Bergitta warga asal  Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini menetap di Desa Bukit Makmur Kecamatan Kaliorang.

Ia mengaku, perhatian dan dukungan pemerintah terhadap pengrajin memberikan kesempatan besar bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan yang sebelumnya sulit diperoleh.

“Di kampung, kami tidak pernah mendapatkan cara belajar seperti ini. Karena ada pemerintah dan Dekranasda yang membentuk pelatihan, kami bisa mendapatkan ilmu baru sampai akhirnya bisa menghasilkan karya, kami ucapkan terima kasih,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, dukungan tersebut kembali membangkitkan semangatnya untuk terus berkarya. Bahkan, keluarga turut memberikan apresiasi atas keterampilan baru yang diperolehnya.

“Suami saya sampai  bilang, seumur hidup baru sekarang saya mau ikut kegiatan seperti ini. Walaupun sudah tua, ternyata masih bisa semangat lagi belajar,” ungkap perempuan berambut Panjang itu.

Menurutnya, teknik tenun ATBM yang dipelajari saat ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan tenun ikat tradisional yang biasa dikerjakan di daerah asalnya.

“Kalau sudah mahir, saya rasa tenun ATBM ini lebih praktis dibandingkan tenun ikat daerah kami di NTT yang prosesnya cukup sulit,” ujarnya.

Dalam proses pembelajaran, kelompoknya kini sudah mulai menghasilkan produk tenun. Beberapa hasil karya telah diproduksi dan memiliki nilai ekonomi.

“Untuk hasil tenun ikat ini sudah ada produksinya. Di dinas sudah ada sekitar setengah meter, sedangkan secara pribadi saya sudah menghasilkan sekitar empat meter. Untuk motif kelompok, kami sudah membuat lima lembar,” jelasnya.

Produk tersebut juga mulai diminati masyarakat. Bahkan, beberapa hasil tenun yang dibuat kelompoknya sudah berhasil terjual. Hal ini menjadi pemicu semangat untuk terus menekuni ketrampilan  yang di wariskan oleh ibunya ini

“Sudah ada yang kami jual, sekitar tiga lembar. Sekarang masih ada masyarakat yang memesan, tetapi masih dalam proses pengerjaan,” katanya.

Terkait arahan Ketua Dekranasda Kutai Timur (Siti Robiah Ardiansyah) agar pengrajin tetap mempertahankan identitas daerah melalui motif Wakaroros, ia menyambut positif hal tersebut. Menurutnya, perpaduan motif lokal Kutai Timur dengan motif khas NTT justru dapat menjadi kekuatan tersendiri.

“Saya setuju dengan arahan Ibu Ketua, Di kelompok kami juga sudah ada arahan dari kepala desa, kalau bisa nanti motif Wakaroros dipadukan dengan motif khas NTT. Setelah tenunan kami selesai, kami ingin mencoba membuat perpaduan antara motif NTT dan Wakaroros,” ungkapnya.

Untuk mendukung kegiatan produksi, kelompoknya saat ini telah memiliki satu unit alat tenun ATBM dan alat tradisional khas NTT yang difasilitasi melalui pemerintah desa.

Dengan adanya pelatihan dan dukungan fasilitas tersebut, para pengrajin berharap kemampuan mereka terus berkembang sehingga mampu menghasilkan produk tenun yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.




Penulis : Tejho

#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, di Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km²  atau 17 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur.  Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 425.613 jiwa (semester 1 tahun 2022), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 11 desa persiapan dan 2 kelurahan.