KARANGAN - Memasuki hari ketiga rangkaian verifikasi Geopark Nasional Sangkulirang–Mangkalihat, tim verifikasi melanjutkan peninjauan ke Cagar Budaya Gua Mengkuris (Telapak Tangan) yang berada di Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (08/07/2026).
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh masyarakat setempat melalui pertunjukan Tari Tapan, tarian tradisional Suku Dayak Basap, di gerbang menuju kawasan Gua Mengkuris. Penyambutan tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam mendukung pelestarian warisan budaya dan geologi di kawasan tersebut.
Usai penyambutan, tim verifikasi bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju gua dengan menempuh jalur sepanjang kurang lebih tujuh kilometer. Akses menuju lokasi melintasi kawasan milik salah satu perusahaan. Disepanjang jalan rombongan juga di suguhkan dengan pemandangan yang mampu membuat decak kagum. Dimana bentangan alam karst yang masih alami tampak berdiri megah, menghadirkan lanskap eksotis yang jarang ditemukan di tempat lain.
Sesampainya di mulut gua, tim verifikasi kembali disambut dengan prosesi adat Tempong Tawar yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Dayak Basap sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada leluhur sebelum seluruh rombongan memasuki kawasan yang dianggap sakral.
Prosesi tersebut berlangsung khidmat, dipimpin oleh tokoh adat setempat yang dengan penuh penghormatan memanjatkan doa agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ritual ini tidak hanya menjadi simbol permohonan keselamatan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Ada dua lokasi yang diteliti oleh Tim yang di pimpin oleh Prof Mega Fatimah Rosana yakni Goa Mengkuris dan Goa Haji yang terletak bersebalahan. Meskipun letaknya berdekatan. Namun kedua Goa tersebut memiliki perbedaan dengan karakteristiknya masing-masing.
Dengan menggunakan alat keselamatan, secara bergantian rombongan berjalan di antara batuan karst yang di apit dengan pohon dan tanaman yang masih alami. Vegetasi yang tumbuh liar di sekitar jalur seolah menjadi pelindung alami, memperkuat kesan bahwa kawasan ini masih terjaga keasriannya.
Sesampaianya di mulut Goa Mengkuris, Tim langsung di buat kagum dengan kondisi alam yang tersaji begitu memukau. Mulut goa yang terbuka lebar memperlihatkan formasi batuan karst yang unik, dihiasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun. Ditambah dengan adanya lukisan tangan dan lukisan prasejarah lainnya yang menghiasi dinding goa, semakin menegaskan nilai penting kawasan tersebut sebagai situs bersejarah. Jejak-jejak peradaban masa lalu itu tampak jelas, menjadi bukti bahwa goa ini pernah menjadi ruang hidup manusia purba ribuan tahun silam.
Dengan alat bantu penerangan, tim langsung menuju ke beberapa lukisan tangan untuk melihat kondisi secara lebih dekat. Cahaya lampu yang diarahkan ke dinding goa perlahan memperlihatkan detail lukisan prasejarah yang selama ini tersembunyi dalam gelapnya ruang alami tersebut.
Dibantu oleh penjaga Goa, Bapak Mingu, Dinas Pariwisata Kutim dan Balai Pelestarian Budaya Kaltim, Tim verifikasi tampak teliti mengamati setiap pola dan bentuk, memastikan kondisi lukisan tetap terjaga dengan baik. Beberapa di antaranya terlihat masih cukup jelas, meski telah berusia ribuan tahun, menunjukkan nilai penting kawasan ini dari sisi arkeologi dan sejarah.
Diskusi hangat berlangsung selama proses peninjauan. Dimana bapak Mingu yang di percaya untuk menjaga kawasan Goa menjelasakan secara detail terkait kondisi, pengelolaan hingga upaya pelestarian yang telah dilakukan selama ini termasuk menayakan keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga kawasan tersebut yang langsung mendapat respon dari peneliti dengan mencatat setiap informasi yang disampiakan.
Saking menariknya, tim hingga tak menyadari waktu yang terus berjalan. Dimana sesuai jadwal hanya berlangsung 1,5 jam, namun kenyataannya kegiatan tersebut berlangsung melebihi batas waktu yang telah ditentukan karena larut dalam setiap detail keindahan dan nilai sejarah yang tersaji di dalam goa. Antusiasme terlihat jelas dari keseriusan mereka dalam mengamati setiap sudut, mendokumentasikan temuan, hingga berdiskusi mendalam terkait potensi kawasan tersebut.
Diketahui, Secara geologi, Gua Mengkuris berkembang pada batu gamping klastik berjenis wackestone-packstone yang termasuk dalam Formasi Lembak berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal atau sekitar 16–28 juta tahun lalu. Bentang alam karst di kawasan ini dipengaruhi struktur geologi berarah barat laut–tenggara yang mengendalikan pembentukan rekahan, proses pelarutan batuan, hingga terbentuknya lorong-lorong gua.
Proses karstifikasi yang berlangsung selama jutaan tahun menghasilkan berbagai ornamen gua atau speleotem, seperti stalaktit, serta sistem gua yang berkembang dengan baik dan masih terjaga keasliannya.
Selain memiliki nilai geologi, Gua Mengkuris juga menyimpan nilai arkeologi yang sangat penting. Di dalam gua ditemukan lukisan cadas berupa cap telapak tangan yang diperkirakan merupakan bagian dari perkembangan seni cadas di kawasan Sangkulirang–Mangkalihat sekitar 52.000 hingga 40.000 tahun lalu. Temuan tersebut menjadi bukti keberadaan manusia prasejarah sekaligus memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu pusat seni cadas tertua di Asia Tenggara.