Cari Berita

Ketik kata kunci untuk mencari berita di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur

Menuju Geopark Nasional, Sangkulirang-Mangkalihat Jalani Verifikasi Lapangan

suasana pemaparan oleh Sekda Provinsi Kaltim  sejkaligus Ketua GSM Sri Wahyuni di dampingi Sekda Kutim Rizali Hadi dan Kdispar Kaltim Muhham Faizal di hadapan tim Penilai
suasana pemaparan oleh Sekda Provinsi Kaltim sejkaligus Ketua GSM Sri Wahyuni di dampingi Sekda Kutim Rizali Hadi dan Kdispar Kaltim Muhham Faizal di hadapan tim Penilai



SAMARINDA – Tim Geopark Sangkulirang Mangkalihat Provinsi Kalimantan Timur menyabut kedatangan Tim Verifikasi Geopark Nasional dari Kementrian ESDM dan Bappenas di ruang VIP Bandara APT Pranoto Samarinda, Senin (06/07/2026).

Tim yang berjumlah 8 orang  di pimpin Prof Mega Fatimah Rosana ini di sambut oleh Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faizal, Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutai Timur, Rizali Hadi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Berau Yudha Budi Santosa beserta tim GSM Kaltim.

Setelah istirahat sejenak, Ketua GSM Kaltim yang juga menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim Sri Wahyuni melakukan pemaparan secara singkat terkait GSM di hadapan Tim Penilai yang berjumlah 3 orang di dampingi  5 Observer. 

Dalam pemaparan tersebut, Sri Wahyuni menjelaskan bahwa kasawan yang memiliki bentang seluas 22 ribu Kilometer persegi itu memiliki posisi strategis karena menyimpan bentang alam karst tropis terluas dan terlengkap di Indonesia. Keberadaan kawasan tersebut juga menjadi peluang besar bagi Kalimantan Timur sebagai destinasi pendidikan, penelitian, konservasi, dan geowisata, terlebih dengan berkembangnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ia mengatakan, pengembangan geopark juga menjadi bagian dari transformasi ekonomi daerah, dari ketergantungan pada pemanfaatan sumber daya alam yang bersifat ekstraktif menuju pembangunan yang berbasis konservasi, edukasi, pariwisata berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat.

Sri menambahkan, kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjaga warisan geologi, tetapi juga melestarikan keanekaragaman hayati dan budaya masyarakat lokal. Kawasan tersebut diharapkan menjadi laboratorium alam bagi dunia pendidikan dan penelitian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis geopark.

Dalam kesempatan itu, Sri juga memaparkan komitmen pengelola untuk menerapkan Pedoman Identitas Visual Geopark Sangkulirang-Mangkalihat secara bertahap di seluruh geosite, biosite, dan cultural site guna menghadirkan identitas kawasan yang seragam sebagai media informasi, interpretasi, dan promosi.

Selain itu, ia menjelaskan berbagai capaian yang telah dirasakan sejak pengembangan geopark dilakukan. Kolaborasi antar-pemangku kepentingan dinilai semakin kuat, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi terus meningkat, sementara fondasi pengembangan geowisata semakin terbentuk melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan penataan kawasan.

Sri juga memaparkan rencana pengembangan ke depan, di antaranya peningkatan aksesibilitas dan infrastruktur menuju geosite prioritas, memperluas kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat, serta memperkuat pengembangan geowisata, UMKM, ekonomi kreatif, edukasi, hingga promosi digital.

Dalam aspek lingkungan, ia menyampaikan kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan total cadangan karbon mencapai 275,57 gigaton karbon (Gt-C). Potensi tersebut diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca Kalimantan Timur hingga 16,04 persen dan berkontribusi terhadap penurunan emisi nasional sekitar 0,74 persen setiap tahun. Sri juga menjelaskan konsep visual logo Aspiring Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang merepresentasikan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, budaya, serta semangat pelestarian kawasan.

Sementara itu, Tim Verifikasi Nasional, Prof. Mega Fatimah Rosana, mengaku sudah tidak sabar untuk melihat secara langsung kawasan yang berada di dua Kabupaten tersebut.  Menurutnya, setelah mendengar presntasi yang di sampaikan oleh ketua GSM Kaltim,dirinya semakin tertarik untuk menyaksikan secara langsung potensi geologi, keanekaragaman hayati, serta kekayaan budaya yang dimiliki kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Ia menambahkan, kunjungan lapangan menjadi bagian penting dalam proses penilaian, guna memastikan kesesuaian antara data yang dipaparkan dengan kondisi nyata di lapangan. Selain itu, interaksi dengan masyarakat lokal juga menjadi salah satu indikator penting dalam melihat sejauh mana pengelolaan geopark memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Kami sudah mempelajari dokumennya. Sekarang kami ingin melihat bagaimana implementasinya di lapangan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa tim akan mengamati kesiapan kawasan sebagai geopark, termasuk berbagai upaya yang dilakukan dalam menjaga kelestarian lingkungan, membangun kebanggaan masyarakat terhadap warisan alamnya, hingga mendorong terciptanya mata pencaharian yang selaras dengan prinsip konservasi.

Menurut Mega, selama lima hari ke depan tim akan melakukan observasi, mengumpulkan berbagai fakta di lapangan, serta mendokumentasikan seluruh hasil penilaian sebelum disampaikan kepada Menteri sebagai bahan evaluasi.

"Kami akan melihat dan memotret seluruh kondisi di lapangan sebelum menyusun laporan hasil penilaian," ujarnya.



Diketahui, Verifikasi lapangan dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 6 hingga 10 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi tahapan penting dalam menilai kesiapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan geopark nasional melalui peninjauan langsung terhadap pengelolaan kawasan, pelestarian warisan geologi, pengembangan geowisata, hingga keterlibatan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Tim verifikasi terdiri dari berbagai unsur, mulai dari Prof. Mega Fatimah Rosana selaku Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Aries Kusworo selaku Ketua Tim Kerja Warisan Geologi dan Geopark Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Yadi Muliadi selaku Ketua Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pusat Survei Geologi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) hingga kalangan akademisi. serta sejumlah Observer lainnya.