SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus mendorong penguatan pendidikan nonformal, tidak hanya dari sisi layanan pendidikan, tetapi juga kelembagaan dan manajemen pembelajaran. Penguatan ini diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang lebih nyaman, fleksibel, sekaligus membekali peserta didik dengan keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Pengembangan Kompetensi serta Manajemen Satuan Pendidikan Nonformal dalam Mewujudkan Pendidikan yang Profesional dan Berkualitas yang berlangsung di Royal Victoria Hotel Sangatta, 26–29 Agustus 2026.
Kegiatan yang diikuti pengelola SKB dan PKBM, pamong belajar serta tutor tersebut diarahkan untuk memperkuat manajemen satuan pendidikan nonformal secara lebih menyeluruh.

“Tujuan kita sebenarnya hari ini adalah bagaimana memperkuat kelembagaan kita dari sisi manajemen. Manajemen itu tidak hanya dalam pengertian yang sempit, tetapi lebih luas dan mencakup semua hal,” ujar Kepala Bidang PAUD dan PNF Disdikbud Kutim Heri Purwanto mewakili Kepala Dinas Mulyono.
Adapun manajemen tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari manajemen peserta didik, keuangan hingga pembelajaran. Namun, dalam kegiatan yang akan berlangsung selama selama dua hari ke depan akan lebih difokuskan pada pengembangan manajemen pembelajaran.
Menurutnya, pembelajaran di satuan pendidikan nonformal harus mampu menciptakan suasana yang membuat peserta didik merasa senang dan nyaman untuk belajar. Hal tersebut menjadi penting, mengingat pendidikan nonformal memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya fleksibilitas waktu belajar yang dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Selain memberikan kesempatan memperoleh ijazah yang setara, pendidikan nonformal juga memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan keterampilan dan vokasi.
“Kalau yang belum mendapatkan pekerjaan itu bisa mendapatkan keterampilan, bisa mengembangkan keterampilan yang didapat, sehingga kita berharap akan tumbuh UMKM-UMKM baru di Kutai Timur,” katanya.
Pengembangan keterampilan tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan upaya memperkuat perekonomian daerah. Terlebih, struktur ekonomi Kutai Timur selama ini masih banyak bertumpu pada sektor sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan.
“Kalau kita tidak kembangkan, secara otomatis nanti kondisi ekonomi kita akan terganggu. Banyak daerah yang karena tidak segera menyadari itu, pada akhirnya menjadi daerah yang tertinggal, bahkan mundur. Banyak contoh di Indonesia, terutama daerah-daerah eks tambang,” jelasnya.
Karena itu, pendidikan nonformal dipandang memiliki posisi strategis dalam menyiapkan masyarakat yang memiliki keterampilan dan kemampuan berwirausaha. Semakin banyak keterampilan yang dikembangkan, semakin besar pula peluang lahirnya pelaku UMKM baru di Kutai Timur.
Dengan penguatan manajemen dan kualitas pembelajaran, pendidikan nonformal di Kutai Timur diharapkan semakin mampu mengambil peran strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus mendukung transformasi ekonomi daerah.
Diketahui, kegiatan yang di ikuti sebanyak 83 orang yang berasal dari seluruh SKBM dan SKB di 18 Kecamatan dnegan menghadirkan narasumber Fauzi Eko Pranyono yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan DPP Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional(Tejho)
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur,. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31,239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif,15 desa persiapan dan 2 kelurahan.