KALIORANG – Tarian tradisional dari suku Dayak yang di tampilkan oleh 4 siswi dari SD Negeri 002 Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang menjadi bagian dari prosesi penyambutan rombongan tim verifikasi Geopark di sekolah yang memiliki latar belakang pemandangan gugusan bukit Karst tersebut.
Usai menyaksikan penampilan apik dari tarian anak-anak sekolah berpredikat Adiwiyata Nasional tersebut. Tim kemudian di arahkan menuju gedung perpustakaan. Dimana sudah di tunggu oleh 5 siswa yang sudah bersiap untuk mempresentasikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dihadapan Tim Verifikasi yang salah satunya merupakan Guru Besar Universitas Padjadjaran yakni prof Mega Fatima Rosana.
Kelima siswa tersebut adalah Aqilah Tsamratul Faudah (kelas IV), Muhammad Afif Husein (kelas IV), Adzkia Samha Saufa (kelas V), Athalla Narendra Supardi (kelas V), dan Muhammad Zidan Alfaruq (kelas VI).
Dengan penuh percaya diri, kelima siswa tersebut, secara bergantian menjelaskan tentang Geopark Sangkulirang Mangkalihat, apa saja yang ada di kawasan tersebut, termasuk bagaimana wilayah itu terbentuk hingga mempresentasikan bagaimana cara menjaga kawasan tersebut agar tetap Lestari. Penjelasan yang runtut dan penuh pemahaman itu pun berhasil menarik perhatian rombongan tim verifikasi, yang tak segan memberikan decak kagum atas kemampuan dan wawasan para siswa tersebut.
“Wah Prof (Mega Fatimah Rosana) anak-anak ini bisa langsung masuk Unpad nggak perlu tes, mereka sudah hafal dan runut penjelasannya,”celetuk salah satu tim pendamping yang di sambut senyum bangga dari para pendamping dan undangan yang turut menyaksikan.

Usai sesi presentasi di ruangan perpustakaan, para siswa kembali mengajak tim verifikasi menuju halaman depan gedung untuk melihat singkapan batu gamping yang berada di lingkungan sekolah. Mereka menjelaskan bahwa sebelumnya kawasan sekolah tersebut pada jutaan tahun lalu merupakan laut dangkal, salah satunya di buktikan dengan adanya batuan kapur atau gamping yang masih tertinggal di halaman sekolah dan menjadi bukti sejarah geologi.
“Jadi apabila batu kapur kita tuangkan dengan zat asam klorida, akan memberikan reaksi berbuih dan perlahan terkikis, reaksi ini menghasilkan gas karbon dioksida atau CO2,”ujar Aqila
Tidak hanya memperkenalkan warisan geologi, para siswa juga mengajak tim verifikasi berkeliling area sekolah untuk menunjukkan berbagai program yang sudah di jalankan, diantaranya pengembangan pendidikan berbasis lingkungan, mulai dari pemanfaatan lahan berbasis pertanian, penggunaan energi ramah lingkungan termasuk pemanfaatan air hujan untuk mendukung kegiatan sehari-hari.
“Jadi air hujan kami tampung. Selain untuk kebutuhan MCK (mandi cuci kakus). Sebagian airnya juga digunakan untuk kolam ikan yang kita pelihara, mulai dari ikan gabus dan Nila,”ucap Zidan yang bercita-cita sebagai Guru IPA
Diakhir kunjungan, tim di ajak ke belakang sekolah untuk melihat secara langsung kawasan Karst yang menjulang tinggi dan menjadi bagian penting dari bentang alam Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Formasi batuan kapur tersebut tampak megah dengan karakter khasnya, sekaligus menyimpan jejak sejarah geologi yang terbentuk jutaan tahun lalu yang perlu di jaga kelestarikanya sebagai warisan penting untuk generasi mendatang.
Penulis : Maulana
#Catatan Kaki
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur,. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki wilayah yang luas 31.239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.