SANGATTA – Executive Chef Royal Victoria Hotel, Joko Utoro, mengapresiasi kreativitas peserta dalam lomba memasak yang digelar Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Kutai Timur. Menurutnya, kemampuan peserta dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi menu non-beras dan non-tepung menunjukkan perkembangan yang semakin baik setiap tahunnya.
Joko Utoro yang juga dipercaya menjadi salah satu juri dalam lomba tersebut menilai peningkatan paling terlihat pada aspek kreativitas dan penyajian makanan atau plating.
“Setiap tahun kebetulan saya menjadi juri. Saya melihat kemampuan ibu-ibu dalam berkreasi semakin meningkat, terutama plating dan penataan di piring saji. Tahun ini sudah jauh lebih bagus dari sebelumnya,” ujarnya.
Dalam lomba kali ini, peserta ditantang menyajikan menu sarapan berbahan dasar non-beras dan non-tepung, termasuk kreasi nasi goreng dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti singkong, pisang, jagung hingga oyek.
Menurut Joko, meski menggunakan bahan dasar yang tidak biasa, peserta mampu menghasilkan menu dengan cita rasa dan tampilan yang menarik. Persaingan dalam penilaian pun dinilai cukup ketat karena selisih nilai antarpeserta relatif tipis.

Ia juga mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar kreativitas, tetapi tetap memperhatikan prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA). Menu yang disajikan harus memenuhi unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati serta vitamin.
“Yang sering terlupakan itu protein nabati. Kalau protein hewani bisa dari ikan atau telur, protein nabati bisa dari tempe dan tahu. Kemudian sayuran sebagai sumber vitamin. Jadi semuanya harus seimbang,” jelasnya.
Lebih jauh, Joko menilai sejumlah kreasi peserta memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Pengolahan bahan pangan lokal yang unik dinilai dapat menjadi peluang usaha apabila dikemas dan dipasarkan dengan baik.
Ia mencontohkan adanya peserta yang mengolah batang pisang menjadi keripik serta membuat nasi goreng berbahan oyek. Menurutnya, kedua kreasi tersebut memiliki keunikan yang dapat menjadi daya tarik tersendiri di pasaran.
“Bisa menjadi nilai jual. Kreativitas mereka, terutama yang unik, ada yang membuat keripik dari batang pisang. Itu unik dan ada nilai jualnya. Kemudian ada juga nasi goreng oyek. Itu bagus dan bisa dikomersialkan,” katanya.
Menurutnya, lomba semacam ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi memasak, tetapi juga dapat mendorong masyarakat semakin kreatif memanfaatkan potensi pangan lokal. Jika dikembangkan secara serius, bahan pangan lokal tidak hanya menjadi alternatif konsumsi rumah tangga, tetapi juga dapat diolah menjadi produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi.(Tejho)
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur,. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31,239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif,15 desa persiapan dan 2 kelurahan.