SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur kembali mencacatkan prestasi yang membanggakan sebagai salah satu daerah di Indoensia yang mampu melakukan layanan kesehatan berupa tindakan stroke dan neurointervensi secara mandiri.
Menggandengan dokter spesialais dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga kini sudah mampu melakukan menyelenggarakan Proctorship Coiling bersama. Program ini diharapkan memperkuat kemampuan tenaga medis daerah dalam menangani penyakit yang berkaitan dengan kelainan pembuluh darah otak, Minggu (25/10/2026).
Mengawali layanan proctorship di rumah sakit yang berlamat di jalan Sooekarno-Hatta tersebut, tim medis melaksanakan tindakan terhadap dua pasien perempuan berusia 51 dan 66 tahun dengan supervisi dokter ahli dari RSCM serta sejumlah rumah sakit jejaring pengampu.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menilai peningkatan kemampuan tenaga kesehatan merupakan kebutuhan penting bagi Kutai Timur.
Dengan luas wilayah dan kondisi geografis yang cukup menantang. Menurutnya, menjadi salah satu motivasi dalam menghadirkan layanan kesehatan secara purna kepada masyarakat yang cepat, tepat, dan berkualitas, tanpa terkendala jarak maupun keterbatasan fasilitas.
“Ketika fasilitas dan kemampuan tenaga medis terus berkembang, pelayanan terbaik bagi masyarakat harus menjadi prioritas,” ujar Bupati Ardiansyah
Ia menambahkan, peningkatan mutu kesehatan perlu didukung oleh kesiapan infrastruktur, peralatan medis, serta tenaga profesional yang mampu memberikan respons cepat terhadap kebutuhan pasien. Pemkab Kutim berkomitmen melanjutkan dukungan terhadap pengembangan layanan rumah sakit dan program dokter spesialis keliling agar masyarakat di berbagai kecamatan semakin mudah memperoleh pelayanan kesehatan.
Direktur RSUD Kudungga Sangatta, dr. Muhammad Yusuf, menyebut hadirnya layanan baru ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas kemampuan pelayanan kesehatan keapda masyarakat terutama neurosains.
“Pendampingan ini menjadi bagian dari proses membangun layanan yang semakin mandiri, profesional, serta mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien,” kata Yusuf.
Ia menjelaskan, RSUD Kudungga telah memiliki sejumlah fasilitas penunjang, antara lain Catheterization Laboratory (Cath Lab), MRI 1,5 Tesla, CT scan, serta peralatan untuk mendukung tindakan bedah saraf. Kendati demikian, ketersediaan teknologi perlu disertai peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan dan kolaborasi dengan rumah sakit berpengalaman.
Pihaknya juga berharap kerja sama pelayanan neurointervensi dengan BPJS Kesehatan dapat segera disetujui agar masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat mengakses layanan tersebut dengan lebih mudah.
Tim pendamping RSCM, dr. David Pangeran, Sp.N, menekankan bahwa pemerataan layanan stroke memerlukan penguatan kapasitas rumah sakit daerah secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa stroke dapat terjadi akibat sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah otak sehingga membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda.
Karena itu, penguasaan keterampilan medis dan tersedianya fasilitas yang sesuai menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan pasien. Dirinya berharap kegiatan pendampingan ini dapat menjadi pijakan bagi RSUD Kudungga untuk mengembangkan pelayanan stroke yang lebih lengkap.
Dengan kemampuan yang semakin baik, masyarakat diharapkan dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis di daerah sendiri tanpa harus selalu dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar Kutai Timur.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes, mengapresiasi langkah RSUD Kudungga dalam memperkuat layanan stroke melalui kolaborasi dengan rumah sakit pengampu. Ia menjelaskan bahwa program jejaring pengampuan dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan akses, kualitas, dan keterjangkauan pelayanan stroke di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam struktur jejaring tersebut, RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo bertindak sebagai pengampu regional, sementara RS PON berperan sebagai koordinator nasional.
Menurut Obrin, rumah sakit daerah didorong agar mampu memberikan pelayanan stroke sesuai dengan kompetensi tenaga kesehatan dan ketersediaan fasilitasnya. Layanan yang dikembangkan meliputi penanganan stroke akibat sumbatan maupun perdarahan, termasuk trombolisis, trombektomi, dan coiling. Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan pemetaan Kementerian Kesehatan, RSUD Kudungga termasuk dua rumah sakit di Kalimantan Timur yang telah mencapai target layanan stroke strata madya.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan pelayanan stroke yang bermutu, terjangkau, dan lebih dekat dari tempat tinggal mereka,” ungkap Obrin.
Ia mendorong RSUD Kudungga untuk terus meningkatkan kemampuan pelayanan dan menyusun langkah pengembangan menuju layanan stroke strata utama. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan penanganan lanjutan di Samarinda, Balikpapan, maupun daerah lain diharapkan dapat berkurang secara bertahap.
Pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Jejaring Pengampuan Layanan Stroke yang didukung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN). Dalam kegiatan ini, dokter dan tenaga kesehatan RSUD Kudungga memperoleh bimbingan langsung dari para ahli untuk meningkatkan keterampilan dalam melakukan endovascular coiling, yaitu tindakan minimal invasif untuk menangani aneurisma otak yang berisiko pecah dan menimbulkan perdarahan.
Diketahui, Aneurisma terjadi ketika dinding pembuluh darah melemah dan membentuk tonjolan yang berpotensi pecah. Penanganan melalui metode coiling dilakukan dengan memasukkan material khusus ke dalam kantong aneurisma melalui pembuluh darah untuk membantu mengurangi aliran darah ke area tersebut dan menekan risiko perdarahan. Berbeda dengan operasi terbuka, prosedur ini dilakukan melalui akses pembuluh darah dengan sayatan kecil.(Maulana)
Keterangan Sumber: Setiap pengutipan, penyaduran, atau penggunaan informasi dan materi publikasi dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur agar mencantumkan sumber resmi serta menyertakan tautan menuju halaman atau berita asli.
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.